“Nana, bajunya udah ? peralatan mandinya udah disiapin ?”
Selalu begitu. Setiap aku ingin bepergian meninggalkan rumah, mama pasti sibuk berkicau.
“sudah bu. Semua sudah siap”.
Kali ini adalah kali pertama hidupku yang baru. Hidup dalam perwujudan mimpi yang telah lama aku pendam. Mimpi yang mungkin bagi sebagian orang merupakan sebuah kemustahilan. Mimpi melanjutkan studi ke luar negeri tanpa biaya sendiri, dengan kata lain beasiswa.
Yap, hari ini hari pertama akan aku jejaki awal dari mimpiku, yaitu melakukan pelatihan SAT di Bandung. Pelatihan menjanjikan masa depan gemilang yang bukan hanya untukku, tapi juga untuk 21 temanku yang lainnya.
Matahari telah meredup ketika aku sampai di depan sekolah yang akan menjadi tempat pelatihanku. Sunyi senyap. Kulihat penunjuk waktu di tanganku.
‘waw, sudah jam segini. Aku belum sholat lagi’, pikirku dalam
hati.
Tanpa membuang waktu, aku bersama keluargaku melangkahkan kaki menuju mushola yang terdapat di pojok ruangan. Mushola kecil yang pernah menjadi tempatku meneteskan air mata dalam doa. Mushola yang menjadi saksi bisu atas doa – doa yang kini telah Tuhan wujudkan. Subhanallah
Selesai menunaikan kewajibanku sebagai umat muslim, aku mulai menelusuri satu demi satu ruangan yang mulai menyibakkan awal memoriku dalam mengejar mimpi terbesar ini.
“Na, ayo
keluar ! katanya kita mau dianterin ke asramanya”, kata papa mengagetkanku.
“oke yah.
Entar aku keluar”, jawabku yang sedang sibuk menahan beban berat di pundak
dikarenakan tas ransel, tempatku menaruh belasan baju sebagai modalku untuk 14
hari mendatang.
“hei, kamu
anak yang dapet beasiswa juga ya ?”, suara mamaku membuatku tersentak.
Ternyata mamaku sedang bertanya kepada seorang gadis yang sepertinya sedang menunggu sesuatu. Gadis itu tampaknya sebaya denganku dengan penampilan sederhana.
“iyaa tante”,
jawab gadis itu.
Tidak berapa lama kemudian, aku baru mengetahui bahwa nama gadis itu adalah Fauziah Nur Azmi dan lebih akrab dipanggil Uji. Setelah berusaha untuk PDKT lebih jauh, ternyata Uji merupakan anak yang cerdas. Ia mendapatkan peringkat ke 2 saat penyeleksian beasiswa ini. Aku kagum dengannya.
Tak terasa saat masih berbincang – bincang dengannya, aku telah sampai di depan pintu gerbang asrama. Asrama minimalis yang sudah aku kira akan tercipta kehangatan di dalamnya.To Be Continued
Tidak ada komentar:
Posting Komentar