Seorang wanita bertubuh mungil dengan wajah baby face menyambut kedatangan kami dengan senyum ramah. Ia mempersilahkan ayahku tetap menunggu di luar ruangan sedangkan aku bersama teman baruku (Uji) serta adik dan ibuku diajak berbincang di suatu ruangan yang sepertinya khusus untuk para tamu.
Di ruangan itu, wanita yang ternyata bernama Wulan dan biasa dipanggil oleh anak – anak asrama yang lain Wulan Abla mulai menjelaskan bagaimana kehidupan asrama yang akan aku rasakan selama 2 minggu ke depan.
“Jadi anak –
anak yang mendapatkan beasiswa akan disatukan kamarnya dengan anak – anak
asrama sini abla ?”, tanyaku terkejut.
“Iya. Soalnya
anak – anak kelas 11 dan 10 belum libur. Jadi mereka masih tinggal di asrama.
Tenang saja, mereka nggak ngegigit kok”, jawab Wulan Abla yang mencoba memecah
kecanggungan.
Aku hanya tersenyum sambil menahan rasa was – was. Jujur saja, ini tidak seperti dugaanku sebelumnya. Aku pikir anak – anak penerima beasiswa akan memiliki kamar sendiri sehingga lebih private.
Aku mulai memikirkan segudang hal buruk yang akan terjadi apabila aku disatukan dengan anak – anak asrama lama.
‘Jangan –
jangan nanti mereka nggak suka gue. Jangan – jangan entar gue dibully. Jangan –
jangan entar gue dijailin’, pikir gue dalam hati yang membuat mood gue berubah
seketika.
Mungkin karena gue terlalu sering menonton sinetron dengan berbagai hal konyol di dalamnya sehingga gue selalu merasa takut yang berlebihan. Yeah, sometimes when I felt scared, I can be a stupid person. Haha
“Tenang aja.
Semuanya dibawa enjoy aja. Masa iya sih kamu bisa kalah sama adek kelas. Kakak
pasti bisa. Ibu yakin kok”, ucap mama seakan – akan mengetahui apa yang aku
pikirkan.
Setelah lumayan lama berbincang – bincang, Wulan Abla membawaku dan Uji ke ruang tamu lain yang letaknya berseberangan dengan ruang tamu sebelumnya. Ruang tamu yang baru tampak lebih luas dengan sofa panjang dan beberapa meja.
Saat memasuki ruang tamu yang baru, aku melihat seorang gadis yang telah aku kenal sebelumnya. Gadis yang kuketahui berasala dari Cirebon ini ternyata sudah sampai saat aku masih sibuk berbincang – bincang bersama Wulan Abla. Aku mengenal Uswatun Hasanah (nama gadis asal Cirebon tersebut) sejak pengenalan program beasiswa ini kepada orang tua murid, 28 Maret 2012 yang lalu. Dari awal aku melihatnya, aku sudah menaruh kekaguman. Gadis yang berasal dari SMA Negeri 1 Sumber ini terlihat anggun dengan balutan gamis.
Ternyata tidak hanya ada Uswa (nama panggilan gadis mempesona itu) di ruang tamu tersebut, tetapi tampak juga seorang gadis dengan tinggi semampai yang belum pernah kuketahui identitasnya.
To Be Continued