J'taime

Sabtu, 30 Juni 2012

22 Pilar Bintang Part 2


Seorang wanita bertubuh mungil dengan wajah baby face menyambut kedatangan kami dengan senyum ramah. Ia mempersilahkan ayahku tetap menunggu di luar ruangan sedangkan aku bersama teman baruku (Uji) serta adik dan ibuku diajak berbincang di suatu ruangan yang sepertinya khusus untuk para tamu.
Di ruangan itu, wanita yang ternyata bernama Wulan dan biasa dipanggil oleh anak – anak asrama yang lain Wulan Abla mulai menjelaskan bagaimana kehidupan asrama yang akan aku rasakan selama 2 minggu ke depan.
“Jadi anak – anak yang mendapatkan beasiswa akan disatukan kamarnya dengan anak – anak asrama sini abla  ?”, tanyaku terkejut.
“Iya. Soalnya anak – anak kelas 11 dan 10 belum libur. Jadi mereka masih tinggal di asrama. Tenang saja, mereka nggak ngegigit kok”, jawab Wulan Abla yang mencoba memecah kecanggungan.
Aku hanya tersenyum sambil menahan rasa was – was. Jujur saja, ini tidak seperti dugaanku sebelumnya. Aku pikir anak – anak penerima beasiswa akan memiliki kamar sendiri sehingga lebih private.
Aku mulai memikirkan segudang hal buruk yang akan terjadi apabila aku disatukan dengan anak – anak asrama lama.
‘Jangan – jangan nanti mereka nggak suka gue. Jangan – jangan entar gue dibully. Jangan – jangan entar gue dijailin’, pikir gue dalam hati yang membuat mood gue berubah seketika.
Mungkin karena gue terlalu sering menonton sinetron dengan berbagai hal konyol di dalamnya sehingga gue selalu merasa takut yang berlebihan. Yeah, sometimes when I felt scared, I can be a stupid person. Haha
“Tenang aja. Semuanya dibawa enjoy aja. Masa iya sih kamu bisa kalah sama adek kelas. Kakak pasti bisa. Ibu yakin kok”, ucap mama seakan – akan mengetahui apa yang aku pikirkan.
Setelah lumayan lama berbincang – bincang, Wulan Abla membawaku dan Uji ke ruang tamu lain yang letaknya berseberangan dengan ruang tamu sebelumnya. Ruang tamu yang baru tampak lebih luas dengan sofa panjang dan beberapa meja.
Saat memasuki ruang tamu yang baru, aku melihat seorang gadis yang telah aku kenal sebelumnya. Gadis yang kuketahui berasala dari Cirebon ini ternyata sudah sampai saat aku masih sibuk berbincang – bincang bersama Wulan Abla. Aku mengenal Uswatun Hasanah (nama gadis asal Cirebon tersebut) sejak pengenalan program beasiswa ini kepada orang tua murid, 28 Maret 2012 yang lalu. Dari awal aku melihatnya, aku sudah menaruh kekaguman. Gadis yang berasal dari SMA Negeri 1 Sumber ini terlihat anggun dengan balutan gamis.
Ternyata tidak hanya ada Uswa (nama panggilan gadis mempesona itu) di ruang tamu tersebut, tetapi tampak juga seorang gadis dengan tinggi semampai yang belum pernah kuketahui identitasnya.

To Be Continued

Kamis, 21 Juni 2012

22 Pilar Bintang Part 1


“Nana, bajunya udah ? peralatan mandinya udah disiapin ?”
Selalu begitu. Setiap aku ingin bepergian meninggalkan rumah, mama pasti sibuk berkicau.
“sudah bu. Semua sudah siap”.
Kali ini adalah kali pertama hidupku yang baru. Hidup dalam perwujudan mimpi yang telah lama aku pendam. Mimpi yang mungkin bagi sebagian orang merupakan sebuah kemustahilan. Mimpi melanjutkan studi ke luar negeri tanpa biaya sendiri, dengan kata lain beasiswa.
Yap, hari ini hari pertama akan aku jejaki awal dari mimpiku, yaitu melakukan pelatihan SAT di Bandung. Pelatihan menjanjikan masa depan gemilang yang bukan hanya untukku, tapi juga untuk 21 temanku yang lainnya.
Matahari telah meredup ketika aku sampai di depan sekolah yang akan menjadi tempat pelatihanku. Sunyi senyap. Kulihat penunjuk waktu di tanganku.
‘waw, sudah jam segini. Aku belum sholat lagi’, pikirku dalam hati.
Tanpa membuang waktu, aku bersama keluargaku melangkahkan kaki menuju mushola yang terdapat di pojok ruangan. Mushola kecil yang pernah menjadi tempatku meneteskan air mata dalam doa. Mushola yang menjadi saksi bisu atas doa – doa yang kini telah Tuhan wujudkan. Subhanallah
Selesai menunaikan kewajibanku sebagai umat muslim, aku mulai menelusuri satu demi satu ruangan yang mulai menyibakkan awal memoriku dalam mengejar mimpi terbesar ini.
“Na, ayo keluar ! katanya kita mau dianterin ke asramanya”, kata papa mengagetkanku.
“oke yah. Entar aku keluar”, jawabku yang sedang sibuk menahan beban berat di pundak dikarenakan tas ransel, tempatku menaruh belasan baju sebagai modalku untuk 14 hari mendatang.
“hei, kamu anak yang dapet beasiswa juga ya ?”, suara mamaku membuatku tersentak.
Ternyata mamaku sedang bertanya kepada seorang gadis yang sepertinya sedang menunggu sesuatu. Gadis itu tampaknya sebaya denganku dengan penampilan sederhana.
“iyaa tante”, jawab gadis itu.
Tidak berapa lama kemudian, aku baru mengetahui bahwa nama gadis itu adalah Fauziah Nur Azmi dan lebih akrab dipanggil Uji. Setelah berusaha untuk PDKT lebih jauh, ternyata Uji merupakan anak yang cerdas. Ia mendapatkan peringkat ke 2 saat penyeleksian beasiswa ini. Aku kagum dengannya.
Tak terasa saat masih berbincang – bincang dengannya, aku telah sampai di depan pintu gerbang asrama. Asrama minimalis yang sudah aku kira akan tercipta kehangatan di dalamnya.
To Be Continued